Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia membicarakan tentang seks adalah hal yang tabu. Bisa jadi hal ini wajar, mengingat negara Indonesia memiliki nilai-nilai normatif yang bersandar pada adat ketimuran dan juga norma agama yang mengikat masyarakat. Namun, tingkat ketabuan seks yang tinggi di dalam masyarakat akan memiliki implikasi terhadap maraknya seks bebas, termasuk juga perilaku seks yang tidak normal dan sangat berkaitan dengan psikoseksual seseorang. Sebenarnya perkembangan psikoseksual dimulai sejak bayi hingga dewasa, yakni berlangsung tahap demi tahap.
Menurut dr Istar Yuliadi, Kepala Pusat Studi Kesehatan Seksual Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS, di tiap tahap (usia) akan terdapat bagian tubuh tertentu yang paling sensitif terhadap pembangkitan atau kegairahan seksual dan merupakan bagian yang paling dapat memuaskan dorongan id (dorongan dasar manusia). Tahap oral (kurang dari dua tahun), lanjutnya, adalah tahap perkembangan psikoseksual paling awal dari seorang manusia.
“Pada tahap ini pemuasan berasal dari daerah mulut. Sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut adalah makanan. Makanan meliputi sentuhan terhadap bibir dan rongga mulut serta menelan atau mengisap, dan jika makanan tidak menyenangkan maka akan dimuntahkan keluar,” jelas Istar, saat menyampaikan materi tentang Memahami Psikoseksual Manajemen Stres dalam seminar nasional Recognizing and Managing Stress with Hypnoteraphy belum lama ini.
Dua aktivitas tersebut yakni menelan makanan dan menggigit merupakan dasar bagi ciri karakter yang akan berkembang kemudian. Sebagai contoh, orang yang mudah ditipu menunjukkan adanya fiksasi dalam tahap perkembangan fasel oral. Individu yang demikian akan menelan semua yang dikatakan oleh orang lain. Atau orang yang suka berdebat atau mengkritik orang lain, umumnya juga mengalami gangguan dalam fase oralnya. Tahap anal (usia 2-3 tahun) lanjut Istar, adalah berupa pemuasan dari daerah anus. Umumnya berhubungan dengan aktivitas pembuangan atau pengeluaran kotoran (feses). “Pengeluaran feses ini akan menghilangkan sumber ketidaknyamanan dan menimbulkan perasaan lega (kenikmatan),” paparnya dalam seminar yang digelar oleh Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam Surakarta ini.
Training Toilet
Pada tahap ini pengaruh ibu dalam memberikan training toilet (latihan buang air) cukup besar dan hal itu akan sangat berpengaruh pada munculnya sejumlah kepribadian. Istar mencontohkan, jika ibu sangat keras dan represif dalam training toilet, si anak bisa sangat kuat menahan feses hingga bisa sembelit. Apabila hal tersebut digeneralisasikan ke cara tingkah laku yang lain, bisa saja si anak menjadi sangat kikir dan keras kepala. Atau sebaliknya, karena cara ibu yang represif itu anak bisa melampiaskan kemarahannya dengan mengeluarkan feses pada orang yang tidak tepat. Namun jika ibu dengan sabar membujuk anak untuk buang air besar dan memberikan anak pujian jika melakukan dengan benar, maka anak akan belajar bahwa aktivitas membuang feses adalah hal penting.
Tahap selanjutnya adalah phallic (usia 4-6 tahun), di mana pemuasan berasal dari rangsangan terhadap alat kelamin. Pusat dinamika dalam tahap perkembangan ini adalah perasaan seksual dan agresif berkaitan dengan bekerjanya fungsi genetikal.
Menurut Istar, tahap ini merupakan tahap perkembangan yang paling krusial. Sebab, anak akan mengembangkan perasaan ketertarikan secara seksual terhadap orangtua yang berlainan jenis. “Anak laki-laki ingin memiliki ibunya dan menyingkirkan ayahnya (oedipus complex). Sebab ayahnya dianggap sebagai pesaing dalam mendapatkan cinta dari ibunya. Sementara anak perempuan ingin memiliki ayahnya dan menyingkirkan ibunya (electra complex),” terangnya.
Pada tahap latency (usia 6-12 tahun), merupakan masa-masa penurunan dorongan id, dan umumnya anak-anak berperilaku aseksual (tidak berhubungan dengan seksual). Anak kemudian menurunkan kecemasannya dengan mengidentifikasikan pada orangtua yang sama. Mereka kemudian berkembang menjadi lebih tenang, belajar sosialisasi, pengembangan kemampuan, dan belajar banyak hal tentang diri dan lingkungan sosialnya.
Sedangkan pada tahap genetikal (usia lebih dari 12 tahun), merupakan tanda pubertas dan kematangan seksual remaja dan terdapat dominasi terhadap ketertarikan seksual pada lawan jenis. “Remaja mulai tertarik kepada orang lain bukan karena cinta diri (narsisme) seperti tahap pragenetikal. Tapi karena daya tarik seksual, sosialisasi, kegiatan kelompok, perencanaan karier serta muncul persiapan untuk menikah,” terangnya.
Tahap terakhir adalah adolescence. Di mana pada tahap ini akan mulai merasakan cinta dan kasih sayang satu sama lain, perhatian yang lebih tentang siapa mereka, bagaimana mereka di mata orang, dan akan menjadi apa. Mereka yang mengalami penyimpangan psikoseksual pada umumnya juga mengalami problem psikologis berupa gangguan emosi, anxietas (cemas), stres, dan depresi. “Perilaku menyimpang ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul, tetapi merupakan akumulasi dari kehidupan masa lalu, baik itu penyimpangan yang tidak menyenangkan, lingkungan ataupun stres dari perubahan psikoseksual yang terjadi,” tutur Istar. (Ikrob Didik Irawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar