Laman

Senin, 07 Februari 2011

persepsi


PERSEPSI
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Salah satu alasan mengapa persepsi demikian penting dalam hal menafsirkan keadaan sekeliling kita adalah bahwa kita masing-masing mempersepsi, tetapi mempersepsi secara berbeda, apa yang dimaksud dengan sebuah situasi ideal. Persepsi merupakan sebuah proses yang hampir bersifat otomatik, dan ia bekerja dengan cara yang hampir serupa pada masing-masing individu, tetapi sekalipun demikian secara tipikal menghasilkan persepsi-persepsi yang berbeda-beda.
Kita dapat memperluas pandangan tentang persepsi sebagai mekanisme melalui stimuli lingkungan (termasuk di dalamnya upaya10 upaya komunikasi), hingga dicapai kesimpulan bahwa persepsi teramat penting bagi pemahaman dan terbentuknya perilaku. Seseorang individu tidak bereaksi atau berperilaku dengan cara tertentu, karena situasi yang terdapat di sekitarnya, melainkan karena apa yang terlihat olehnya, atau apa yang diyakini olehnya tentang situasi tersebut.
Persepsi merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi. Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Apakah dunia terlihat “berwarna” cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi. Sensasi merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. Kesemuanya inilah yang sering disebut indera.
Jadi dapat dikatakan bahwa sensasi adalah proses manusia dalam dalam menerima informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal “neural” yang bermakna. Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indera visual, yaitu mata) sebuah benda berwarna merah, maka ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh organ mata, lalu diproses dan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal di otak, yang kemudian diinterpretasikan sebagai “warna merah”.
Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya.
  1. RUMUSAN MASALAH
Adapun permasalahan yang ingin diangkat dalam penulisan makalah ini adalah :
  1. a.       Apa yang dimaksud dengan persepsi ?
  2. b.       Apakah persepsi setiap orang terhadap benda yang sama akan sama ?
  3. c.       Bagaimana proses persepsi yang terjadi pada seseorang
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Persepsi
Sebuah proses internal yang dinamakan persepsi, yang bermanfaat sebagai sebuah alat penyaring (filter) dan sebagai metode untuk mengorganisasi stimuli yang memungkinkan kita menghadapi lingkungan kita. Proses persepsi tersebut menyediakan mekanisme melalui seleksi stimuli dan dikelompokkan dalam wujud yang berarti. Akibatnya adalah bahwa kita lebih dapat memahami gambaran mengenai lingkungan yang diwakili oleh stimuli tersebut (Winardi, 2002).
Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh seseorang di dalam memahami informasi tentang lingkungan, baik melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman (Thoha, 1980).
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera (Drever dalam Sasanti, 2003). Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu.
Sabri (1993) mendefinisikan persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya. Proses persepsi terdiri dari tiga tahap yaitu tahapan pertama terjadi pada pengideraan diorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, tahapan ketiga yaitu stimulasi pada penginderaan diinterprestasikan dan dievaluasi.
Mar’at (1981) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan.
Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain. Sedangkan menurut  Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir.
Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi.
  1. Jenis-Jenis Persepsi
Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis.
1)      Persepsi visual
Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan.Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan mempengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya, Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum.
2)      Persepsi auditori
Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.
3)      Persepsi perabaan
Persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
4)      Persepsi penciuman
Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.
5)      Persepsi pengecapan
Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.
Kita dapat memperluas pandangan tentang persepsi sebagai mekanisme melalui stimuli lingkungan, hingga dicapai kesimpulan bahwa persepsi teramat penting bagi pemahaman dan terbentuknya perilaku. Seseorang individu tidak bereaksi atau berperilaku dengan cara tertentu, karena situasi yang terdapat di sekitarnya, melainkan karena apa yang terlihat olehnya, atau apa yang diyakini olehnya tentang situasi tersebut.
Agar seseorang dapat menyadari dan dapat melakukan persepsi ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi, yaitu :
a). Adanya objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus
yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar langsung mengenai indera dan dapat datang dari dalam yang langsung mengenai syaraf penerima (sensoris) tapi berfungsi sebagai reseptor.
b). Adanya indera atau reseptor, yaitu sebagai alat untuk menerima stimulus.
c). Diperlukan adanya perhatian sebagai langkah awal menuju persepsi.
Jika rangsangan merupakan faktor eksternal dalam proses pengamatan maka faktor individu merupakan faktor internal. Menghadapi rangsangan dari luar itu seseorang bersikap selektif untuk menentukan rangsangan mana yang akan diperhatikan sehingga menimbulkan kesadaran. Melalui proses selektif terhadap suatu rangsangan, seseorang dapat mempunyai tanggapan atau pendapat tentang objek tertentu. Dalam hal ini persepsi dapat diukur dari proses memberikan nilai terhadap objek tertentu dari orang tersebut.
Mar’at (Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi di pengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek psikologis. Rahmat (dalam Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi juga ditentukan juga oleh faktor fungsional dan struktural. Beberapa faktor fungsional atau faktor yang bersifat personal antara kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang bersifat subyektif. Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain: lingkungan keluarga, hukum-hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor personal dan struktural. Faktor-faktor personal antara lain pengalaman, proses belajar, kebutuhan, motif dan pengetahuan terhadap obyek psikologis. Faktor-faktor struktural meliputi lingkungan keadaan sosial, hukum yang berlaku, nilai-nilai dalam masyarakat.
Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
a.  Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
b. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk meniiai sesuatu.
c. Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua pandangan mengenai proses persepsi, yaitu:
1.) Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas.
2.) Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi suatu proses aktif timbulnya kesadaran dengan segera terhadap suatu obyek yang merupakan faktor internal serta eksternal individu meliputi keberadaan objek, kejadian dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek tersebut. Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan atau disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi (Bartol & Bartol, 1994).
  1. Prinsip Persepsi
Sebagian besar dari prinsip-prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian-bagian yang diindera seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan keseluruhan. Gambar berikut menunjukkan bahwa persepsi manusia bukanlah hasil penjumlahan unsur-unsurnya [segitiga terbalik ditambah bujursangkar biru yang terpotong], tetapi seseorang dapat melihat ada segitiga putih di tengah walau tanpa garis yang membentuk segitiga tersebut.
Prinsip persepsi yang utama adalah prinsip figure and ground. Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia, secara sengaja maupun tidak, memilih dari serangkaian stimulus, mana yang menjadi fokus atau bentuk utama [=figure] dan mana yang menjadi latar [=ground].
Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain).
Prinsip-prinsip dasar psikologi antara lain :
1)      Persepsi itu relatif bukan absolut.
2)      Persepsi itu selektif
3)      Persepsi itu mempunyai tatanan
4)      Persepsi dipengaruhi oleh harapan dn kesiapan
Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama. Persepsi sama dengan tanggapan yang merupakan proses yang dilakukan setelah penginderaan muncul dimana persepsi muncul setelah stimulus hilang tetapi melalui kesadaran.
PENUTUP
Kesimpulan
1)      Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi.
2)      Jenis-jenis persepsi berdasarkan alat idera :
  • Persepsi visual
  • Persepsi auditori
  • Persepsi perabaan
  • Persepsi penciuman
  • Persepsi pengecapan
3)      Agar seseorang dapat menyadari dan dapat melakukan persepsi ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi, yaitu :
a). Adanya objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus
yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar langsung mengenai indera dan dapat datang dari dalam yang langsung mengenai syaraf penerima (sensoris) tapi berfungsi sebagai reseptor.
b). Adanya indera atau reseptor, yaitu sebagai alat untuk menerima stimulus.
c). Diperlukan adanya perhatian sebagai langkah awal menuju persepsi.
3)      Sebagian besar dari prinsip-prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian-bagian yang diindera seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan keseluruhan [the whole]. Teori Gestalt menjabarkan beberapa prinsip yang dapat menjelaskan bagaimana seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi.
Saran
Kajian-kajian tentang persepsi masih sangat perlu untuk ditingkatkan, karena persepsi sangat penting bagi guru sebagai tenaga pendidik untuk dapat memahami cara berpikir peserta didiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Desmawati, Yeni. 2008. Resume Matrikulasi Psikologi. Palembang. PPs UNSRI.
http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi#Pembedaan_dengan_sensasi
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/persepsi.html

Awas salah dandan bikin wajah tampak tua!!

Berhias atau berdansan untuk menjadikan setiap wanita ingin selalu tampak muda dan cantik. Tapi hati-hati, kesalahan saat berdandan malah bisa membuat Anda tampak lebih tua dari usia yang sebenarnya. Ada baiknya Anda mengetahui kesalahan saat berdandan yang bisa bikin Anda tampak tua agar Anda bisa menghindarinya, sebagai berikut:
  1. Foundation yang terlalu tebal, Foundation yang terlalu berat atau dandanan yang terlalu tebal adalah hal yang sudah lama ditinggalkan. Karena dandanan ’menor’ bisa membuat seseorang terlihat lebih tua.
  2. Alas bedak yang warnanya tak cocok, Alas bedak atau foundation yang warnanya tak sesuai dengan warna kulit wajah Anda, justru bisa menonjolkan kerutan di wajah Anda. Pilih alas bedak yang menyerupai kulit wajah Anda atau yang satu warna lebih tua dari warna kulit untuk menyamarkan kerutan.
  3. Concealer terlalu banyak di bawah mata, Seiring bertambahnya usua, kulit di bawah mata berkurang ketebalannya, memberikan concealer terlalu banyak dan tebal akan membuatnya terlihat sangat tidak natural. Usahakan untuk mengoleskannya tipis-tipis dan secukupnya, atau aplikasikan dengan kuas. Kuas bisa mendistribusikan warna lebih rata, cukup di daerah bawah mata yang hitam, tak perlu di seluruh daerah mata.
  4. Pemakaian bedak di atas kerutan, Bedak diaplikasikan di sekitar hidung, dagu, dan tulang pipi bagian atas untuk mengurangi terlihat ’kinclong’ akibat minyak, namun hindari penggunaan bedak di daerah wajah yang cenderung memiliki kerutan. Bedak bisa malah makin menegaskan kerutan jika diaplikasikan terlalu tebal, karena akan terlihat retakannya di atas kerutan. Jangan gunakan bedak di daerah mata untuk menghindari tumpukan bedak yang retak.
  5. Perona pipi, Perona pipi bisa menarik perhatian ke bagian pipi, usahakan untuk menghindari penggunaan perona pipi jika Anda memiliki kulit yang cenderung kendur di daerah sana. Gunakan perona pipi di tulang pipi, jangan terlalu dekat dengan hidung, aplikasikan ke arah atas dengan kuas besar di atas tulang pipi. Hindari warna gelap, seperti merah marun atau cokelat kayu manis. Pilih warna natural, seperti pink dan bisa membuat makeup terlihat segar.
  6. Lipstik, Seiring bertambahnya usia, garis bibir akan mulai memudar karena kulit mengendur, hal ini akan menyusahkan untuk menggunakan lipstik. Tak adanya garis bibir alami, lipstik bisa keluar dari jalurnya, akan lebih baik jika Anda menggunakan lipliner agar warna lipstik tidak ’jalan-jalan’ keluar dari jalurnya. Hindari warna lipstik yang terlalu terang, terlalu gelap, atau metalik. Pilih warna yang natural, seperti pink mawar. Coba ganti lipstik ke sheer gloss, yakni lipgloss dengan warna nude, yang akan membuat bibir tampak lebih penuh.
  7. Maskara di kelopak mata bagian bawah, Kelopak mata bagian bawah terletak dekat dengan kerutan di bagian bawah luar mata. Jika Anda mengenakan maskara di kelopak mata bagian bawah, Anda akan terlihat lebih tua. Gunakan maskara hitam agar bagian putih bola mata Anda terlihat lebih putih. Usahakan menggunakan maskara yang tidak menggumpal. Sebelum menggunakan maskara, selalu gunakan eyelash curler agar bulu mata Anda terlihat lebih lentik, membuat tampilan lebih segar.
  8. Eyeliner di kelopak mata bagian bawah, Eyeliner di kelopak mata bagian bawah akan membuat mata Anda terlihat lebih kecil dan menarik perhatian ke lingkaran hitam di bawah mata. Cukup digunakan di kelopak mata bagian atas, dan tarik garis agak ke atas di bagian ujung luar mata (seperti mata kucing).
  9. Eyeshadow sparkling di luar kelopak mata, Jauhi sparkling eyeshadow di bagian luar kelopak mata, karena akan makin memperlihatkan kerutan di sekitar mata. Cukup gunakan shimme


orang tua pendek, anak belum tentu pendek

Sebagian orang percaya bahwa tinggi badan orang tua mempengaruhi tinggi badan anaknya. Orang tua pendek, maka anaknya pasti pendek. Ternyata mitos itu tidak selamanya benar, karena anak tinggi pun bisa dihasilkan dari orang tua pendek.

Seorang anak pasti punya faktor genetik yang diturunkan dari orang tuanya. Faktor inilah yang kerap dijadikan alasan mengapa seseorang bertubuh pendek kerap berkelit 'sudah dari sananya'. Memang benar, salah satu faktor pendek atau tingginya badan seseorang adalah genetik. Tapi faktor tersebut sebenarnya bisa dikalahkan oleh faktor fenotip atau faktor lingkungan.

"Faktor lingkungan dan nutrisi adalah faktor yang berpengaruh cukup besar untuk perkembangan anak, selain faktor turunan atau gen. Anak yang kebutuhan gizinya terpenuhi, walaupun orang tuanya pendek, pasti akan tumbuh dengan tinggi yang ideal," ujar dokter ahli gizi klinik, Dr. Fiastuti Witjaksono MS, Sp.GK dalam seminar 'Bekal Tumbuh Besar Blue Band'.

Dr. Fiastuti mengatakan bahwa anak atau sesorang yang tinggi badannya kurang merupakan pertanda bahwa status gizi atau asupan gizinya tidak terpenuhi untuk jangka waktu yang panjang. Masalah gizi pada anak, disebutkan Fiastuti, bisa disebabkan karena pengetahuan orang tua tentang gizi yang kurang, anak dibiarkan menentukan makanannya sendiri oleh orang tua, dan juga anak mudah tergoda jajanan di sekitarnya.

Oleh karena itu, Fiastuti menegaskan, orangtualah yang seharusnya memegang kendali untuk masalah makanan anak. Caranya yaitu dengan membuat perencanaan makan yang benar, baik itu jumlah kalorinya yang disesuaikan, jadwal makannya dan jenis makanannya. Khusus untuk jadwal makan, sebaiknya anak diberikan porsi kecil dan sering ketimbang porsi besar tapi jarang. "Hal ini dikarenakan saluran pencernaan anak belum berkembang sempurna, jadi tidak bisa menerima dengan jumlah yang berlebihan," ujar Fiastuti.

"Berikan makan tiga kali sehari dalam porsi yang cukup, dan selingi dengan snack yang bergizi diantara waktu makan itu," jelas dokter yang tergabung dalam Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) tersebut. Untuk kebutuhan tinggi badan, Fiastuti menyarankan agar anak mendapat asupan lemak yang cukup, karena lemak merupakan penghantar vitamin A, D, E, K yang baik untuk pertumbuhan tulang.

"Lemak pada orang dewasa memang kurang baik, tapi pada anak sangat dibutuhkan karena merupakan cadangan energi dan zat yang dibutuhkan untuk perkembangan otak. Asal tahu saja, cadangan energi hanya bertahan 8-10 jam, jadi jika anak makan malam jam 7 malam, lalu tidak sempat sarapan dan baru makan jam 9 pagi, pasti tubuhnya lemas. Menurut Fiastuti, memberi bekal adalah solusi yang paling efektif dan aman untuk mengontrol makanan anak. "Anak akan terhindar dari jajan dan pastinya mendapat mekanan yang bergizi dan higienis.

Pakar psikolog dan play therapist, Dra Mayke Tedjasaputra, MSi pun memberikan tips agar anak terhindar dari kebiasaan jajan dan mau diberi bekal oleh orang tua, diantaranya :
  1. Ubah pola makan keluarga, orang tua jangan mencontohkan jajan jika tidak ingin anaknya jajan.
  2. Buat kudapan tandingan untuk bekal anak di sekolah atau ketika hari libur, tidak ada alasan ibu tidak bisa masak.
  3. Buat semacam peraturan jika ingin jajan (yang sehat), seperti memberi reward jika bisa menahan jajan selama 1 minggu.
  4. Biarkan anak sekali-kali jajan, tapi harus dibatasi orang tua dan pastinya harus jajanan yang sehat.
  5. Berdiskusilah dengan anak tentang keuntungan membawa bekal atau kerugian jajan, biarkan otak anak berpikir.
  6. Orang tua harus paham tentang kesehatan dan harus konsisten memberikan bekal yang sehat untuk anak.
  7. Sekolah lebih sering mengadakan hai tanpa jajan.
  8. Pedagang-pedagang sekolah harus diberi penyuluhan oleh badan yang berwenang dan diadakan kontrol rutin.